Senin, 02 Maret 2015

Berjuang Sendiri.

terlalu sombong rasanya menuliskan judul ini. Tapi mirip seperti itulah yang aku rasakan dalam fase ini.
fase hidup mengejar sebuah cita. yaa,, aku dari awal atau belum memulainya aku sudah berjuang sendiri.
Mama Bapak maaf atas kesombonganku ini, aku tau mamah bapak masih sanggup memberi apa yang aku butuhkan sebagai anak. Aku tau mama bapak tidak akan rela  melihatku berkali menyeka keringat diwajahku.
maafkan anakmu ini mah pak sama sekali tidak bermaksud mengabaikan tugasmu membesarkan dan memenuhi kebutuhanku.Aku hanya ingin mandiri,aku tidak ingin menjadi beban merepotkan mama bapak.
walau aku tau,mamah bapak tidak pernah berfikir sepirti itu.

cukup dulu aku masih belum mengerti akan semua kesulitan.belum mengerti akan sebuah perjuangan..pada fase ini yang hampir memakan waktu 5 tahun di perantauan,semua rasa hidup sudah aku alami. semuanya aku simpan sendiri,cukup kugoreskan saja dalam buku usang sebagai jejaku melewati fase ini.nanti suatu saat orang - orang akan melihat jejak-jejaku itu.betapa sering tertatih saat melangkah,betapa sering terjatuh saat berdiri. tapi yang jelas,fase ini semakin menguatkan azzamku, menguatkan langkahku untuk terus berlari.

Minggu, 01 Maret 2015

Menganggur itu bukan Aib

Ceritanya kemarin gue baru baca koran Lampu Merah, iseng-iseng nyari info job fair, gue mau ikutan kalo ada. Niatnya bukan nyari lowongan kerja sih, tapi mau berdiri di depan meja registrasi sambil nampangin spanduk bertulis,

"SITU NGANGGUR? MALU SAMA NEGARA WOI!", kemudian gue dikejar-kejar, ketangkep, dibakar massa,hhahahahaa
Anyway, ketika kita melihat ada fresh graduate yang hanya baru beberapa hari wisuda kemudian mendapat kerja, kita selalu menganggap mereka adalah orang-orang yang beruntung, atau bisa jadi mereka main dukun.hahaha,,just kidding

Gue pribadi, harus cukup bersabar menanti panggilan interview berminggu-minggu dengan mengandalkan pencarian kerja online --gue nggak mau menyebut namanya, sebut saja jobstreet.com--, yang membuat gue makin envy dan emosi dengan orang-orang yang lebih cepat mencari kerja.

Entah kenapa, ini aneh banget, walaupun berpuluh-puluh lamaran kerja udah gue masukin ke setiap perusahaan, jarang ada panggilan wawancara, sedangkan temen gue, seperti tanpa perlu susah payah, dengan mudah dia dapet panggilan kerja, dan dengan semena-mena pula dia menolak tawaran itu.

"Bagaimana Mba dengan tawaran kami?"
"Maaf ya Mas, aku gak bisa, kita teman aja yah."
"Ta..tapi tapi... Mba."
""
 Begitulah temen gue ...

Hal berat lainnya ketika tak kunjung bekerja, adalah nggak nyamannya kuping dengan pertanyaan, "Kapan kerja?", "Kok masih nganggur?", "Tetangga udah kerja loh.", "Saudara kita baru lulus langsung kerja loh.", "Kok masih di rumah.", "Kapan kamu bahagiain orang tua?"

Lama-lama denger begituan, kuping gue jadi panas (siram paracetamol). Gue nggak rela kalo dipanggil pengangguran, dan nggak ada orang yang rela dipanggil begitu, kesannya terlalu negatif. Makanya setiap kali ada yang nanya sama gue ., gue akan bilang,

"Heh, kapan kerja? Nganggur mulu."
"Heh, ini bukan nganggur, tapi lagi libur."
"...", dilempar Batu Akik. 
paradigma orang untuk kuliah adalah biar mudah mencari kerja, padahal fakta udah ada di mana-mana. Dan makin parah ketika mereka berpikir, wisuda tepat waktu, kuliah semua mudah, skripsi tanpa revisi, lulus nilai bagus, nilai bagus kerja mulus.  

Hidup tidak sebercanda itu. (Eyang Sudjiwotejo).

Salah jurusan itu gak papa, asal jangan salah pekerjaan. Dan selalu ingat dalam diri bahwa, menganggur itu bukan aib pribadi ... tapi aib keluarga, ppffttt. :')

*kabur