Minggu, 06 Desember 2009

judul-judulan

07 Desember 2009

"Alhamdulillah.." Itu yg saya katakan setelah isya di hari minggu tgl 06 desember '09.. Saya benar2 merasa keluarga msh ada untuk saya. Dan ayah saya tetap menjadi tokoh utama dgn sifat dingin, jarang berbicara, emosional, tak terlihat perhatian, namun penuh kejutan..


Saya ingat2 lg dr sejak saya msh kecil, kejutan2 ayah saya memang selalu datang ketika saya telah mencapai suatu keberhasilan. Mungkin beliau mendidik anak2nya agar menyadari bahwa untuk mendapatkan sesuatu yg kita inginkan harus dilalui dgn perjuangan yg keras. Terkadang dulu saya sering mengeluh dalam hati, "Knp uang jajan saya cm sgni? Knp motor saya cm ini? Knp semua serba di-pas!" skrg saya sadar bahwa itu sungguh sebuah keluhan tolol dari seorg remaja blm dewasa yg tak mampu mensyukuri apa yg ia dpt.. Saya baru menyadari bahwa didikan ayah saya menjadikan saya tumbuh sebagai anak yg sederhana dan tidak mem'bangga2kan apa yg saya punya. "ini cuma modal, kamu cukup mensyukuri lalu kamu yg merubah barang ini menjadi sesuatu yg hebat dgn uang kamu sendiri.." itu yg beliau katakan..
Saya msh ingat .

Dari sejak itu saya sudah tak pernah protes karna saya tau, ayah saya pasti punya rencana lain. "kita ga selalu dpt apa yg kita inginkan.." benar2 kata yg sangat bermakna dan berguna bwt saya..

terkadang aku bahkan tidak menemukan keindahan yg menurut mereka teramat indah.
diantara deru birunya laut dgn camar yg menari-nari di atasnya, ragaku nampak menghujat.
aku hanya melihat sosok antagonis persekongkolan angin dan air yg mengatasnamakan ombak menerjang kokohnya karang.
apa yg sedang aku pikirkan?
aku hanya mampu duduk tertegun di atas tandu menatap langit yg tak lagi cerah.
matahari mulai menghilang sebagai wujud abdinya terhadap Tuhan.
aku pun semakin mendengar tangisan erat kesepian.
aku bergumam entah apa yg aku senandungkan.
tetapi saat ini hatiku terkoyak melantunkan keluhan..
"Tuhan, mengapa aku disini? berikanlah aku alasan yg tepat? tempat ini sungguh sangatlah indah. tapi tidak terasa bagiku, karena aku merasa tempatku seharusnya bukan disini..!"
aku berbaring memandang awan dan berbisik..
"aku tahu Engkau maha mendengar Tuhan.. maka, jawablah.."
aku tunggu jawaban itu, namun tak kunjung datang.
kemudian aku tersadar.
dgn sedikit ketabahan, aku berucap.
"mungkin hidupku akan terasa lebih tenang jika Engkau memberikan jawaban dari alasan-MU yg baik bagiku dan tak mungkin keliru."

(dari seorang aku yg belum menemukan jawaban itu..)


saat dia tak hiraukan semua angkara. hanya satu buah titah yg tak diejawantah. terlalu byk yg kan teresah.

saat air mata membasahi bumi yg tak akan pernah menghapus sang pedih.

aku pun tak bisa, saat kau meminta.

aku terpaksa menerima.
biarlah, biarlah semua berjalan seperti waktu.
dan kini hadapi semua walaupun itu perih.
ini bukan akhir dunia dan bukan segalanya.
aku terjatuh.
aku memang tidak mati,
tapi keputusan itu akan membuat aku tidak bisa berjalan seperti sedia kala lagi.

jangan pernah sedih karena ku terlalu mencintaimu..
jangan pernah sedih karena ku merasa kehilangan mu..
jangan pernah sedih karena ku tak sanggup melupakan mu..
maka jangan menangis saat kau meninggalkanku..
dan ingatlah waktu-waktu terbaik yang pernah kita lalui..
maka ku akan bangga karena ku mengenalmu..
karenakau hanyalah batu pijak bagiku saat ku ingin melompat lebih tinggi..

itu kira-kira yang aku tangkap
DARI MATA ....KU
SEBELUM ... BENAR-BENAR PERGI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar